Minggu, 16 April 2017

Film Kartini - Menjelaskan Sosok Tomboy nan Cerdas


Berbicara tentang Kartini, kita akan disuguhkan tentang sosok feminisme pada zaman penjajahan Belanda. Seorang putri bangsawan yang harus tunduk pada tata karma dan tradisi. Perempuan ningrat yang dituntun untuk menjadi Raden Ayu. Tapi, lebih dari itu semua – Kartini, pembela hak perempuan dan rakyat kecil untuk sama-sama mendapatkan pendidikan.
Sepanjang saya belajar tentang sejarah, yang saya tahu bahwa Kartini adalah salah satu pahlawan nasional yang berusaha mensejahterakan pendidikan bagi semua orang. Dan kadang kala saya berpikir, perjuangan Kartini sampai saat ini belum bisa kita rasakan. Seharusnya, jika dia – R.A Kartini saja sudah berpikir sebegitu maju-nya untuk mensejahterakan hak bagi sesama maka kita yang hidup di zaman Millennial harus lebih bisa berpikir kritis serta berjuang membela hak ini bukan!

Apa yang akan ada dipikiran kalian jika berbicara tentang film Kartini?

Banyak asumsi orang-orang dan saya sendiri juga menganggap jika Kartini dibawa ke dalam sebuah karya layar lebar pasti menjadi film yang susah untuk dimengerti. Menghadirkan banyak kerutan dan membuat kita berpikir keras untuk mengerti. Tapi sayangnya, saat saya menonton langsung Film karya Hanung Bramantyo tidak ada kerutan di dahi, tidak ada satu adegan pun yang akan membuat saya berpikir keras atau tidak mengerti tentang alur cerita yang dipersembahkan.
Melihat Kartini di film ini seperti melihat para perempuan saat ini yang memperjuangkan hak kesetaraan antar sesama. Bedanya, hanya terlihat pada setting-an zaman penjajahan Belanda dan masalah tradisi. Selain itu, kita juga diajarkan untuk menjadi pribadi yang gemar membaca, menggapai mimpi setinggi-tingginya tanpa takut apapun, serta berpikir bebas untuk membuka jendela dunia.

Kartini yang diperankan oleh - Dian Sastrowardoyo – bukanlah sosok perempuan Jawa yang anggun, kemayu dan malu-malu. Tapi aktris cantik nan berbakat ini menggambarkan Kartini yang tak pernah diduga sebelumnya. Perempuan dengan pikiran bebas yang tomboy, berani dan haus akan ilmu.
Kartini berpikiran merdeka tanpa batas walau dia sedang dalam masa pingit dimana hanya ada dinding kamar sebagai tempatnya untuk menimba ilmu. Imajinasinya yang tinggi menghantarkannya menjadi sosok perempuan yang pandai merangkai kata dalam aksara Belanda. Kebebasannya tidak hanya dinikmati oleh dirinya seorang, dia mengajak kedua adiknya Kardinah (Ayushita) dan Roekmini (Acha Septriasa) yang masuk dalam masa pingit untuk sama-sama menjadi Raden Ayu yang berbeda. Mereka tentu menjadi saudara yang sangat dekat dan kompak untuk melawan tradisi.

Film Kartini juga akan mengajak kita untuk tertawa, terharu atau pun kagum dengan kata-kata yang terucap. Bahkan ada satu adegan dimana Kartini bertanya pada Kyai sehabis pengajian keluarga “adakah ayat yang menjelaskan tentang ilmu” dan “apa di ayat itu dijelakan bahwa hanya laki-laki saja yang boleh menuntut ilmu”.

Buat saya ini cukup menggelitik, karena di Hanum Bramantyo dengan berani menjelaskan bahwa setiap orang diperbolehkan untuk menuntut ilmu dalam segi agam Islam. Dan tentu ini akan menjadi sedikit tamparan untuk siapapun bahwa kita semua diizinkan oleh Yang Maha Kuasa untuk menggapai ilmu. Menuntut ilmu bukanlah sesuatu yang harus dilarang, tidak ada yang  boleh menghalangi siapapun untuk belajar, semua orang punya hak yang setara, mau dia perempuan atau laki-laki, mau dia kaya atau miskin, mau dia orang barat atau timur semua sama-sama memiliki hak.

Dan yang paling saya suka adalah kata Yu Ngasirah, ibu Kartini (Christine Hakim) tentang perbedaan makna mempelajari aksara Jawa dan Belanda. Jika Aksara Belanda mengajarkan kita tentang kebebasan maka Aksara Jawa mengajarkan kita tentang Bakti. Dimana kita bukan hanya berpikir tentang diri sendiri tapi juga orang-orang yang ada di dekitar kita. Mengajarkan kita tentang rasa peduli dan cinta dan berbagi kepada sesama.

Semakin lama saya berkomentar tentang film ini, bisa-bisa saya akan menceritakan jalan ceritanya dari awal hingga akhir. Tidak ada rasa selain kekagumaan dalam film Kartini yang akan saya sampaikan. Film Kartini akan segera tayang di bioskop-bioskop tanah air pada tanggal 19 April. Dua hari sebelum kita merayakan hari Kartini. Jadi, siapakan waktu yang tepat untuk menikmatinya.
Btw, soundtrack film Kartini yang dinyayikan Melly Goeslow dam Gita Gutawa memiliki lirik dalam yang easy listening. Jadi, sekali-kali coba di dengarkan untuk menjadi semangat diri sendiri atau memperjuangkan mimpi.

Sutradara: Hanung Bramantyo
Produser: Robert Ronny
Penulis naskah: Bagus Bramanthi-Hanung Bramantyo
Pemain: Dian Sastrowardoyo, Ayushita Nugraha, Acha Septriasa, Christine Hakim, Deddy Sutomo, Reza Rahadian, Dwi Sasono, Djenar Maesa Ayu, Denny Sumarga
Produksi: Legacy Pictures-Screenplay Productions
Jadwal Tayang: 19 April 2017




Mimpi Kartini belum dapat direalisasikan dengan baik sampai sekarang


Totalitas





Gambaran seluruh keluarga Kartini di Film

Photo: Facebook  LegacyPicturesID

Tidak ada komentar:

Posting Komentar