Minggu, 10 Juni 2018

Lima – Menceritakan Moral Pancasila di Kehidupan sehari-hari

Bagaimana kalian memaknai hari Pancasila?

Kelahiran Pancasila yang jatuh pada tanggal 1 Juni lalu menjadi moment tersendiri untuk saya. Kenapa?



Karena saya dapat undangan untuk menonton film LIMA di Djakarta Theater XXI bersama ShopBack.co.id. Untungnya undangan film ini jatuh di hari libur jadi tidak masalah siang-siang saya bisa hadir. Padahal seharusnya masih ada beberapa deadline kantor yang harus dikerjakan. Tapi tak apa, ini gunanya tanggal merah di hari Jum’at. Mempercepat semua pengerjaan di hari sebelumnya dan menikmati hari libur lebih cepat.

Oh, Film Lima ini dibintangi oleh sedereta nama seperti  Prisia Nasiution, Baskara Mahendra, Tri Yudiman, Yoga Pratama dan Dewi Pakis. Selain itu, film ini juga digarap oleh lima Produser, Lola Amari, Shalahudin Siregar, Tika Pramesti, Harvan Agustiansyah dan Adriyanto Dewo.

Film yang berdurasi sekitar 120 menit, cukup panjang untuk cerita drama menurut saya, memiliki banyak pesan hidup. Seperti bagaimana kita menjadi warga negara yang hidup dengan keberagaman agama, suku, ras dan perbedaan-perbedaan lainnya.  Diperuntukan untuk penonton berusia 17 tahun keatas film Lima bercerita tentang sebuah keluarga serta kehidupan sehari-hari mereka.



Awalnya cerita film ini sediki membingungkan saya, alur cerita yang kurang pas dan banyak hal yang akan membuat penonton termasuk saya berpikir lebih keras tentang makna dari potongan-pontong cerita di dalamnya. Parahnya, saya tidak melihat adanya penyelesaian dari beberapa bab cerita. Tapi setidaknya, di dalam film ini, pesan yang ingin disampikan dapat saya mengerti dengan jelas maknany.

Memang dalam segi cerita dikemas tidak terlalu menarik dan masalah utama yang ingin diangkat terlampau banyak, apalagi film ini digarap seperti film dokumenter tapi memiliki 78durasi yang lebih Panjang dari biasanya. Tapi saya salut dengan alur cerita yang tidak biasa. Pengangkatan kisah yang santai namun penuh dengan makna.

Mungkin Film ini diciptakan memang untuk membuat hati para penontonnya bepikir bahwa Indonesia punya satu dasar negara yang mencakup semua hal yaitu Pancasila. Pancasila yang bediri sebagai pedoman moral dalam keberagaman yang dimiliki bangsa Indonesia. Sebagai ayat yang selau harus diingat bahwa keadilan memiliki arti yang sama dengan pemahaman yang berbeda. Sebagai penengah dalam beragaman. Sebagai patokan norma dalam bergaul dan lain sebagainya.

Jarang sekali saya menyaksikan sebuah film yang betemakan nasionalisme di kehidupan di zaman sekarang. Contoh sederhana yang akan membuat kita semua sadar bahwa para pembentuk negeri ini sudah memikirkan masa depan bangsa dengan baik. Tanpa saling menyakiti, tanpa adanya hak mencela yang ada hanya kesatuan untuk merangkul sesama.

Saya tidak akan memberikan pesan apapun. Karena sebagian orang yang mengenal saya tahu seberapa idealisnya saya dalam memandang hidup. Seberapa tidak pedulinya saya dengan perbedaan agama dalam berteman. Seberapa marahnya saya dengan bobroknya kekuasaan dan keadilan yang terlihat semu.

Saya rasa saya sudah sampai di ujung cerita kali ini. 

And see you in next story, don’t forget to follow me in social media

xoxo 


Silvia 
😘


Instagram : @silviaofstory
Twitter : @SilviputriN
Facebook: silviputrin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar