Minggu, 17 Februari 2019

Antologi Rasa “Untuk yang Telah Menemukan, Namun Tak Bisa Memiliki”


“Well, welcome to Romance Movie”

Saya penikmat Novel Romance tapi bukan penyuka film romantis. Bagi saya, novel dan film adalah sesuatu yang berbeda. Jadi kalau ada film yang diangkat dari novel, tolong jangan disamakan.

“Hayolah, itu-kan dua media yang berbeda, tidak usah disamakan dan dihakimi seenaknya kalau ada banyak bagian yang di Novel dipotong atau ditambahkan.”

Seperti yang saya bilang, saya bukan penyuka film romance kecuali film itu benar-benar membuat saya penasaran. Pemainnya saya suka dan otomatis ada unsur yang membuat saya tertarik untuk melihatnya. Salah satunya film Antologi Rasa karya Ika Natassa. Jujur buat saya pemeran utamanya pas, sesuai dengan karakteristik yang dijelaskan di dalam buku.


The Cast
Film ini bergenrekan romantisme, persahabatan dan pastinya kisah cinta segi banyak di Kota Besar. Diperankan oleh Herjunot Ali (Haris), Carissa Perusset (Keara) dan Refal Hady (Ruly) dengan titik lokasi syuting yang sebagian besar diambil di Jakarta dan Singapura. Para pemain dan tempatnya cukup memanjakan mata di kala suntuk dengan rutinitas sehari-hari.



Film yang berdurasi hampir 110 menit ini benar-benar mengambil banyak kata-kata indah di dalam bukunya. Ada tiga kata yang saya suka disini yaitu tema utamanya yang perlihatkan besar-besar di awal film “Untuk yang Telah Menemukan, Namun Tak Bisa Memiliki”. Dialog Keara “Selamat datang di kisah cinta gue yang berantakan” atau kata-kata Haris untuk K “Kalau dia bikin lo ketawa, itu tandanya lo suka sama dia. Kalau dia bikin lo nangis, itu tandanya lo cinta sama dia”

Udah cukup ya, tiga kalimat itu benar-benar mewakili semua perasaan buat para pecinta yang sudah menemukan atau masih mencari.

The Review
Sebelum mulai review saya akan kasih ranting terlebih dahulu. Sayangnya saya tidak bisa memberikan lebih dari 6,7/10. Kawan-kawan yang sudah menonton, pasti tahu ada banyak kesalahan di beberapa adegan, seperti pintu masuk apartemen K yang kedua kali itu berbeda dengan yang pertama. Saya tidak tahu hal itu disengaja atau ada penjelasan lainnya tentang ini. Hal ini cukup fatal karena bisa jadi bahan untuk orang-orang yang suka mengkritik.

Antologi Rasa sudah mulai tayang sejak tanggal 14 Feb 2019 dan pastinya sudah dinanti-nantikan oleh para penggemar novelnya Ika Natassa. Secara cerita, film ini tidak begitu jauh dari yang ada di buku. Mungkin hanya ada bagian kecil yang ditambah atau dikurangi untuk menyempurnakan cerita dalam bentuk audio visual. Seperti akhir cerita-nya, yang sudah baca tahu donk kalau di novel ceritanya dibuat menggantung dengan end yang tersirat. Tapi di Filmnya benar-benar di bikin tuntas dan menyenangkan.
Untuk durasi, menurut saya film ini terlalu lama, sedikit membosankan, kurang gerget tapi jauh lebih baik dari film Ika Natassa sebelumnya, Critical Eleven.

Singkat cerita, Antologi Rasa bercerita tentang empat orang sahabat yang ternyata masing-masing saling mencintai. Seperti rantai, saling menyambung tapi tidak dikedua belah sisi. Haris mencintai Keara, bad boy yang jatuh cinta pada satu perempuan. Keara mencintai Ruli dalam diam dan Rully yang dengan bodohnya mencintai Denise (Atikah Suhaime), padahal dia sudah berteman dari SMA, satu kuliah dan tempat kerja. Jadi, wajar kalau kisah ini benar-benar berantakan.

Saya sudah berkata di awal, Harjunot menjawab visualisasi dari sosok Haris, akting-nya sebagai Bad Boy cukup membuat saya terkesan walau masih ada beberapa unsur seperti saat dia bermain 5cm. Belum lagi beberapa scent yang tadinya mellow bisa dengan mudahnya dia buat menjadi cair kembali secara natural. Ibaratnya udah nangis dibikin ketawa and he is great for that.
Carissa Perusset memang menggambarkan beberapa sisi Keara dibayangan saya dan beberapa teman tapi secara acting dia masih banyak kurangnya. Cukup maklum karena ini film pertamanya jadi saya berkata bagus-lah buat awal permulaan, walau ada beberapa hal yang menurut saya kurang. Sepertinya dia terlalu mengikuti dialog atau arahan. Padahal acting itu kadang kala butuh Improvisasi-kan

Well, that is my opinion. See you in the another story
Btw yang blm baca review movie sebelumnya, silahkan mampir Foxtrot Six






xoxo 


Silvia 👯


Instagram : @silviaofstory
Twitter : @SilviputriN
Facebook: silviputrin


Photo: Google

14 komentar:

  1. Hehehe... review ttg durasi film ini yg terlalu panjang en membosankan, saya setuju banget, Mbak. Tapi kalo dibandingkan dengan Critical Eleven, saya masih jauh lebih suka CE. Hehehe...

    Salam kenal. :)

    BalasHapus
  2. Saya nontin film ini. Ceritanya sederhana tp akting para pemainnya bagus

    BalasHapus
  3. Mantap nih mau beralih jadi movie blogger.

    KurLeb hampir sama sih review'a. Rasa filmnya juga masih sama ala Critical Eleven karena kurang istimewa aja gitu padahal momen'a hari kasih sayang kan*

    BalasHapus
  4. indah banget ya kata kata ini “Untuk yang Telah Menemukan, Namun Tak Bisa Memiliki”. Pun pada prakteknya hadeh susah. Eh curcol

    BalasHapus
  5. ini soundtracknya dinyanyiin sama Nidji dengan vokalis baru bukan sih?

    duh filmnya baper to the max, keribetan cinta

    BalasHapus
  6. Wahhhh, cuma dapet 6 ya Kak?
    Aku baca review juga di story salah satu teman, katanya mengecewakan abis filmnya.

    Ternyata bener.

    BalasHapus
  7. sayang banyak bloopers yaaaaa. . score-nya rendah... males nonton aaah hihihu

    BalasHapus
  8. Antalogi Rasa versi filmnya penasaran

    BalasHapus
  9. Duh! Membayangkan 4 sahabat saling mencintai udah kayak rantai gitu. Ribet aja, ya :D

    BalasHapus
  10. Untuk yang telah menemukan, namu tak bisa memiliki ini kok mirip temanku banget ya. Belum lama anaknya curhat, apa aku suruh nonton ini aja ya biar dia berasa kebawa dengan suasana hatinya.

    BalasHapus
  11. Sebagai pembaca novelnya Antologi Rasa, nonton filmnya ini terasa bgt alurnya lamaaaaaaa bgt. Sampe pgn tidur :( padahal di bukunya menurut aku gak selama itu.
    Dan durasi 110menit itu, iya menurut aku jg its too long :(
    Apalagi kalo yg blm pernah baca novelnya, kek suamiku bilang, sungguh bosan dan ceritanya acak2an maju mundur gak jelas bikin pusing:(

    Sorry to say filmnya gak bagus menurutku. Maaf ya mas Rizal :D

    BalasHapus
  12. Kata2 “Untuk yang Telah Menemukan, Namun Tak Bisa Memiliki” bikin nyesek banget ya. Inget jaman2 pas muda dulu. Eh pas labil. Hehehe.
    Blm nonton filmnya. Tapi kayaknya baca bukunya dl deh ya.

    BalasHapus
  13. Saya suka soundtrack film ini

    BalasHapus
  14. Eh ini nontonnya di bioskop atau di channel apa kak? Skip deh kayaknya akuh di bioskop.

    BalasHapus

Maaf, Bagi yang meninggalkan jejak dengan link akan saya hapus. Terima Kasih