Jumat, 22 Mei 2020

Hari-hari Karantina - Manfaat atau bencana dari COVID-19 Part 2

           Dear Semesta

       Saya merasakan banyak yang berbeda sebulan ini. Suasana yang tidak lagi kondusif, pikiran yang selalu berubah-ubah, rasa senang yang selalu bercampur dengan nada khawatir. Sebulan ini, mengajarkan banyak hal dalam hidup, memberikan banyak makna dalam memandang masa depan, menjelaskan waktu yang telah habis terbuang sia-sia. Akankah saya bilang ini berkah? Akankah suasana ini memberikan manfaat atau bencana yang tidak memiliki titik terangnya.




    Biasanya, diwaktu siang hari minggu seperti ini, saya akan menghabiskan waktu di sebuah café, mengamati aktifitas orang lain dari balik meja. Menikmati secangkir Latte dan Cinnamon Roll. Mencari sebuah ide baru untuk sebuah karya yang masih saja belum terpikirkan. Menghabiskan waktu untuk merenung dan berpikir kegiatan di minggu yang akan datang. Akan tetapi, semua berubah. Kebiasaan berubah, penghasilan dan pengeluaran pun berubah, kegiatan sehari-hari tidak lagi sama. Tidak ada yang akan bicara ‘I hate Monday’ ataupun keluhan tentang aktivitas sehari-hari tapi masih terus dilakukan.

World change, People change’
         
       Work from Home tidak-lah semenyenangkan diawal-awal pembatasan kegiatan yang dilakukan pemerintah. Sekarang kegiatan ini bisa jadi salah satu makian, olokan bahkan keluhan baru bagi sebagian orang. Awalnya terasa sangat menyenangkan dan lambat-laun menjadi hal biasa yang mulai dilakukan oleh manusia seperi robot. Bangun pagi, menyalakan laptop, sarapan, nonton Netflix, kerja depan laptop, makan siang, nonton Netflix, kerja lagi, makan malam dan seterusnya. Repeat again for next day. Ya.. walau bagi sebagian orang aktivitasnya akan berbeda atau bahkan sangat sama. Who’s know?
For me, work from home like a people said they are working but in fact, they are watching. The first time, it was easy and the last you'll to said 'that’s boring'. You only working at home, in your living room, dining room or your room. Maybe if you have a garden or pool you are working there. And I think the taste is not the same as the office. I can’t talk with each other people (bergosip misalnya) going to the Plaza for lunch, going to the cinema after work. Now, you only stay at home, look at your children, wife/husband, mom/dad and your sibling. Did you want to grateful or complain? That’s only yourself to answer.
Saya tidak tahu bagaimana efek karantina ini untuk Anda. Yang saya tahu, saya merasakan dua sisi selama karantina (negative and Positive). Mengambil sisi baiknya dan memperbaiki sisi buruknya.

THE NEWS 

Data kerugian sektor pariwisata selama covid-19 mencapai angka yang cukup fantastis. Di Eropa sendiri, kerugian mencapai 95% yang termasuk kedalamnya adalah Hotel, Restaurant, Museums, Theater dan beragam tempat hiburan lainnya. Belum lagi penerbangan dari berbagai Negara dan transportasi yang menghubungan satu Negara dengan Negara lainnya. Serta penutupan perbatasan dari suatu wilayah. Contohnya adalah Swiss yang menutup seluruh akses dari Negara tetangga seperti Autria dan Jerman. Tentu wabah ini menjadi masalah serius karena berdampak parah pada sektor pariwisata yang mereka lakukan, termasuk Indonesia.
Salah satu contoh yang terparah adalah Italy yang sudah memiliki dampak cukup parah akibat Covid-19. Jika tahun lalu masalah pariwisata yang harus dikendalikan Italy adalah Overtourism maka tahun ini adalah ‘Zero Tourism’. Tidak ada turis yang berlalu-lalang, mengambil gambar, makan di café ataupun berbelanja. Pemesanan kamar dibatalkan, penerbangan ditidakadakan. Semua orang diwajibkan berdiam diri di rumah.

Lalu kenapa kita tetap berniat keluar?

Jika sebagian orang berpikir bahwa mereka bosan di rumah dan tetap keluar bahkan untuk sesuatu yang bisa dikatakan tidak penting. Hal itu menjelaskan bahwa ‘dia hanya mencintai dirinya sendiri’ tidak ada rasa kemanusiaan dalam dirinya. Ciri-ciri manusia egois yang tidak memikirkan orang lain. Lalu bagaimana jika para pekerja medis mengatakan ‘kami bosan di rumah sakit.’ Mereka mengatakannya karena lelah, lelah pasien yang terus bertambah, lelah karena tidak bisa bertemu dengan keluarga, lelah karena sepertinya orang-orang di luar sana menyepelekan penyakit ini.
Berniat melanggar PSBB karena bosan bukanlah alasan yang bisa diterima. Semua orang pasti tahu jika terus-terusan melakukan kegiatan yang sama setiap harinya akan ada rasa bosan. Dan sektor seperti Pariwisata bukan hanya satu-satunya yang terkena dampak Covid-19. Masih adalah sektor lainnya, katakanlah pendidikan. Bagaimana rasanya anak-anak itu belajar di rumah? Pusingnya para ibu yang harus lebih pintar dalam waktu sehari untuk mengajarkan putra-putrinya. Para guru yang kewalahan untuk menilai murid-murid-nya yang hanya dapat ditemui by video call.
Masa-masa krisis seperti ini, kita semua diminta untuk lebih pintar, lebih bijak dan melihat peluang untuk memanfaatkan bencana. Jangan hanya diam dan melihat. Lakukan sesuatu yang bisa membuat Anda seperti berkegiatan di luar rumah. Jangan bosan apalagi menyelahkan diri sendiri, orang lain ataupun pemerintah. Berusahalah berpikir positive dan melihat dari banyak sisi. Stay safe all. Luv

Thank you for read and see you in my next story

XOXO

 Silvia 


Instagram : @silviaofstory
Twitter : @SilviputriN
Facebook: silviputrin

29 komentar:

  1. Ketika para nakes mulai mengatakan "Indonesia Terserah" atau mengeluh lainnya, saya masih bisa memaklumi. Mereka seperti itu karena masih banyak masyarakat yang ignorant. Wajar lah kalau mereka sedikit melakukan protes. Biar bagaimana mereka juga manusia yang harus dihargai

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena itu, sebagai seharusnya kita yang paham jadi lebih peka untuk membantu nakes. Jangan biarkan mereka menyerah atau bekerja tanpa hati.

      Hapus
  2. Aku selama masa quarantine bener2 gak keluar rumah kecuali belanja. Sempet ke Jakarta Selatan pas lebaran karena memang ada hal penting yg harus diselesaikan bukan sekedar mau silahturahim. Semoga makin banyak masyarakat yang disiplin mengenai hal ini ya mbak supaya gak makin nyebar virusnya

    BalasHapus
  3. Setuju banget, Mbak. Lebih baik ambil sisi positifnya aja. Kalau saya sih jadi bisa lebih dekat dengan keluarga dan juga bisa nyoba banyak menu masakan baru juga hehehe...

    BalasHapus
  4. Kadang di masa begini gemes karena masih ada yang bandel . Keluar gak jelas dan ikut berkerumun . Kadang mikirnya bomat ah hidup dia . Tapi kalo udah bikin orang lain merugi juga ya balik lagi tambah gemes.

    BalasHapus
  5. Ya ampun masa ini jauh lebih sukar ya mbak, apalagi banyak sekali kerugian yang terjadi akibat covid 19 ini mbak. Memang belum bisa berpikir jernih kenapa orang senang banget bisa keluar ke sana -sini masih di masa ini.

    BalasHapus
  6. Aku keluar klo harus ke grocery itupun seminggu sekali..
    Keluar klo memang butuh sih

    BalasHapus
  7. Pandemi COVID-19 ini memang berdampak terhadap semua aspek kehidupan. Memang benar selalu Ada hikmah dalam setiap kejadian. Saya bahkan mungkin semua orang berharap pandemi ini cepat berakhir.

    BalasHapus
  8. Selalu ada dua sisi dari apa pun yang terjadi ya. Ada dampak negatif, ada juga sisi positif. Supaya tidak stres, aku sih fokus ke positifnya aja. Seperti di masa karantina sekarang. Bonding keluarga semakin erat, ibadah berjamaah bisa tepat waktu, mengeksplor kemampuan diri, dll. Sebisa mungkin, kalo gak urgent mah, gak ke luar rumah. Itu pun cuma aku sama bapaknya anak-anak saja. Anak-anak mah udah gak pernah ke luar rumah lagi. Bahkan ke luar pagar rumah pun enggak. Palingan berjemur aja :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah buk ibu, Ini ada saran juara dari kak Nia

      Hapus
  9. Bener banget harus pandai cari peluang dalam bencana bukan berarti untuk memanfaatkan situasi tapi memang harus cermat agar bisa tetap bertahan di situasi seperti ini

    BalasHapus
  10. Semoga yang memang benar-benar tidak ada hal yang sangat penting untuk keluar rumah agar tetap bisa bertahan di dalam rumah, karena itu pun demi kebaikan diri sendiri dan keluarga

    BalasHapus
  11. Iya banget. Di masa berjuang bersama seperti sekarang, kalau masih merepet dan nggak betah bawaannya maunya keluar rumah melulu, ya ... dia terlalu memikirkan diri sendiri.

    BalasHapus
  12. Sejujurnya, dampak pandemic ini lebih banyak positifnya buat aku dan keluarga kecilku . Lebih irit, lebih khusyuk ibadah, lebih aware sama kesehatan dan kebersihan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iri deh aku, banyak banget sisi positif yang diambil kak Irena

      Hapus
  13. Banyak banget yang terdampak yah Mbak :') Aku ngga ngerasain momen WFH ternyata emang ngga mudahbyah. Butuh adaptasi juga.

    BalasHapus
  14. Nggak terasa ya mbak udah mau tiga bulan aja kita wfh. Akupun kalo dulu kegiatannya weekday kerja dan weekend main atau dateng ke event. Sekarang harus tetep dirumah sampe keadaan membaik. Kalo bosen aku nyari-nyari kegiatan baru yang bisa dilakukan dari rumah daripada harus keluar rumah. Plus aku jadi lebih sering bikin bullet journal sih buat bantu kerjaan dirumah biar tetep selesai tepat waktu hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, tiga bulan yang nanonano rasanya. Luar biasa dibikin jungkir balik.

      Hapus
  15. Kalau aq sih tetap dirumah aja itu lebih baik karna punya anak bayi juga. Klo keluar palingan suami yg keluar selama ini.

    Huhuu jorona pergi lah engkau dri indonesia yah mba.

    BalasHapus
  16. Untukku malah seolah ini jawaban dari Tuhan melalui semesta.

    menjauh sejenak dari keramaian, keriuhan duniawi, "bersantai" di rumah dengan suami dan anak, bahkan koneksi jarak jauh dengan Ibunda dengan cara mengirimkan makanan. sungguh sesuatu buatku.

    Aku menikmati proses psbb yang negatif dan positif sekaligus. Bosan? ya ga mungkin ga bosan, kita kan manusia yang bersosialisasi yaaa...

    The great things is our taraweh, recite Quran, fasting is so full. No complaining!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Great kak Tanti, Semoga yang positif bisa ertular ke orang lain.

      Hapus
  17. saya juga kadang kesal melihat orang yang keluar rumah tanpa kepentingan mendesak seperti kerja atau belanja kebutuhan sembako. Apalagi di masa yang akan mulai new normal semoga saja banyak yang mentaati peraturan.

    BalasHapus
  18. aku selama masih bisa di rumah sih ya mending di rumah aja. apalagi di kotaku ini yang positif corona sudah ratusan. ngeri banget sebenarnya kalau mau ke luar rumah

    BalasHapus
  19. Sayangnya aku adalah salah satu yang ga bisa mencicipi enaknya WFH karena kondisi perusahaan tergoncang hebat karena covid 19 aku jadi masuk poll mba hahaha..

    tapi kalau tanya suami yang WFH sih blio bilang bosan sekali katanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, ga setiap orang bisa merasakan WFH yang penting adalah tetap jaga aman dan bersyukur. :)

      Hapus

Maaf, Bagi yang meninggalkan jejak dengan link akan saya hapus. Terima Kasih